Chapter 3 : Revenge? ( Part 1)
“ Gin, gimana ceritanya sih? Kok lu putus sih ama Rendy?” Tanya Chika.
“ Ya nggak gimana-gimana. Cuma udah nggak cocok aja.” Balasku
“ Weh, gue pikir lu bilang alasan kayak gitu cuma alasan basi aja. Alasan yang sebenernya bukan alasan, cuma untuk menutupi alasan sesungguhnya.”
“ Yup… Gue masih berpikir gitu kok. Tapi terkadang itu alasan memang ampuh karena memang kenyataannya banyak hal yang bisa di jadiin alasan untuk putus, tapi alasan nggak cocok itu kayak meringkas semuanya.”
“ Emang lu nggak sayang apa sama sih Rendy?”
“ Seriously? You asking me that question? Of course I love him. I just not really believe that he love me too. So I ended before he do it.”
“ Well, situasi kisah cinta lu sama dia memang nggak semulus orang-orang sih. Tapi gue pikir saat lu terima dia, lu udah yakin sama keseriusannya dia.”
“ Nice question. I do believe in him that time. Tapi semakin ke sini, semua kerasa nggak mungkin untuk di terusin.”
“ Masa? Apa mungkin cuma lu doank kali yang nggak mau mencoba untuk berjuang lebih. Kayak jaman lu sama Rezki kan? Kenapa lu nggak jadi sama dia? Definetly I see you like him. Cuman lu terlalu nggak mau berjuang aja. Terkadang cinta butuh perngorbanan loh.”
“ Maybe you right. Or maybe we have to believe in destiny. If me and Rendy is mean to together. Then will be together at the end. Right?”
“ Ya, terserah lu deh. Gue cuma bilang aja walau kita perempuan berjuang untuk cinta itu nggak ada salahnya kok.”
Aku nggak bisa menyalahkan Chika untuk apa yang dia katakana tentang aku dan Rezki. Karena memang pada kenyataannya aku tidak menceritakan keseluruhan cerita. Mungkin bisa dibilang karena aku malu. Menceritakan kebodohan dan dikasihani itu bukan hal yang kuinginkan. Aku lebih suka menyimpan kebodohanku rapat-rapat dan mempelajarinya untuk tidak mengulangnya kembali.Tapi yang dikatakan Chika ada benarnya juga. Kenapa nggak dari dulu aku tanya saja langsung apa maksud dan tujuan dari Rezki. Even it’s gonna be weird. At least I know? Not like this until I still don’t understand. Maybe what he’s trying to say is not like what I get. But forget it. I’m gonna be a collage girl. New life and new experience will come. Better see the future and look back to the past.
Tugas…Tugas… Dan Tugas… Tidak pernah terpikir olehku kalau kuliah tugasnya akan ada sebanyak ini. Bebas datang kapan saja? Tidak terjadi di jurusanku, Kalau pulang kapan saja mungkin bisa. Tapi hidup di kuliah sangat membosankan. Walau gedung dan lingkungan kampus lebih besar dari pada sekolah sma, namun tidak ada satu pun yang menarik.
Cari pacar di tempat kuliah? Semua cowok di sini mungkin lebih suka dengan rokok daripada wanita. Walau ada tulisan bahwa kampus adalah daerah bebas rokok. Tapi sepertinya tulisan itu hanya pajangan saja. Tentang makanan? Harga makanannya ada yang tidak jauh berbeda dengan waktu aku sekolah namun tempat makannya terkadang tidak nyaman. Berbeda memang, tapi kita tetap harus menjalaninya kan?
“ Gina…Gina…”
Siapa yang memanggil namaku? Aku tidak berada di dalam gedung jurusanku. Siapa yang mengenalku di sini? Aku pun mencoba mengarahkan pandanganku ke arah suara tersebut. And guess who is it?
“ Hai Gin. Sombong amet gue panggilin dari tadi nggak nengok-nengok.”
“ Masa sih? Kayaknya suaru lu kurang keras deh Rez. Soalnya tadi gue dengernya kecil jadi bingung.”
“ Ooo. Yauda, kok lu ada di sini? Ngampus di sini juga?”
“ Yup… Lu sendiri ngapain? Bukannya lu udah lulus ya?”
“ Iya sih, tapi gue masih ke kampus soalnya lagi ada proyek ama dosen.”
“ Ooo, gitu toh.”
“ Wes… Pake bb ni. Bagi pinnya donk.”
Well, I can't say that I’m not wanna give him my pin. So I just give it. And once again that the start of our reconnecting friendship.
Aku berpikir banyak mengenai apa yang dikatakan Chika dan apa yang dikatakan oleh diriku sendiri. Kenapa aku dan Rezki harus terus bertemu? Padahal aku sudah lupa akan dia dan tidak ingin bertemu dengan dia lagi. Is it the one that we call destiny? Seriuosly? Why him?
Wait for the next part.... :)
By : Michelle Rorong
By : Michelle Rorong