Tampilkan postingan dengan label Cerita panjang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita panjang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Pemberi Harapan Palsu


Chapter 3 : Revenge? ( Part 1)

“ Gin, gimana ceritanya sih? Kok lu putus sih ama Rendy?” Tanya Chika.
“ Ya nggak gimana-gimana. Cuma udah nggak cocok aja.” Balasku
“ Weh, gue pikir lu bilang alasan kayak gitu cuma alasan basi aja. Alasan yang sebenernya bukan alasan, cuma untuk menutupi alasan sesungguhnya.”
“ Yup… Gue masih berpikir gitu kok. Tapi terkadang itu alasan memang ampuh karena memang kenyataannya banyak hal yang bisa di jadiin alasan untuk putus, tapi alasan nggak cocok itu kayak meringkas semuanya.”
“ Emang lu nggak sayang apa sama sih Rendy?”
“ Seriously? You asking me that question? Of course I love him. I just not really believe that he love me too. So I ended before he do it.”
“ Well, situasi kisah cinta lu sama dia memang nggak semulus orang-orang sih. Tapi gue pikir saat lu terima dia, lu udah yakin sama keseriusannya dia.”
“ Nice question. I do believe in him that time. Tapi semakin ke sini, semua kerasa nggak mungkin untuk di terusin.”
“ Masa? Apa mungkin cuma lu doank kali yang nggak mau mencoba untuk berjuang lebih. Kayak jaman lu sama Rezki kan? Kenapa lu nggak jadi sama dia? Definetly I see you like him. Cuman lu terlalu nggak mau berjuang aja. Terkadang cinta butuh perngorbanan loh.”
“ Maybe you right. Or maybe we have to believe in destiny. If me and Rendy is mean to together. Then will be together at the end. Right?”
“ Ya, terserah lu deh. Gue cuma bilang aja walau kita perempuan berjuang untuk cinta itu nggak ada salahnya kok.”

Aku nggak bisa menyalahkan Chika untuk apa yang dia katakana tentang aku dan Rezki. Karena memang pada kenyataannya aku tidak menceritakan keseluruhan cerita. Mungkin bisa dibilang karena aku malu. Menceritakan kebodohan dan dikasihani itu bukan hal yang kuinginkan. Aku lebih suka menyimpan kebodohanku rapat-rapat dan mempelajarinya untuk tidak mengulangnya kembali.Tapi yang dikatakan Chika ada benarnya juga. Kenapa nggak dari dulu aku tanya saja langsung apa maksud dan tujuan dari Rezki. Even it’s gonna be weird. At least I know? Not like this until I still don’t understand. Maybe what he’s trying to say  is not like what I get. But forget it. I’m gonna be a collage girl. New life and new experience will come. Better see the future and look back to the past.

Tugas…Tugas… Dan Tugas… Tidak pernah terpikir olehku kalau kuliah tugasnya akan ada sebanyak ini. Bebas datang kapan saja? Tidak terjadi di jurusanku, Kalau pulang kapan saja mungkin bisa. Tapi hidup di kuliah sangat membosankan. Walau gedung dan lingkungan kampus lebih besar dari pada sekolah sma, namun tidak ada satu pun yang menarik.

Cari pacar di tempat kuliah? Semua cowok di sini mungkin lebih suka dengan rokok daripada wanita. Walau ada tulisan bahwa kampus adalah daerah bebas rokok. Tapi sepertinya tulisan itu hanya pajangan saja. Tentang makanan? Harga makanannya ada yang tidak jauh berbeda dengan waktu aku sekolah namun tempat makannya terkadang tidak nyaman. Berbeda memang, tapi kita tetap harus menjalaninya kan?

“ Gina…Gina…”
Siapa yang memanggil namaku? Aku tidak berada di dalam gedung jurusanku. Siapa yang mengenalku di sini? Aku pun mencoba mengarahkan pandanganku ke arah suara tersebut. And guess who is it?
“ Hai Gin. Sombong amet gue panggilin dari tadi nggak nengok-nengok.”
“ Masa sih? Kayaknya suaru lu kurang keras deh Rez. Soalnya tadi gue dengernya kecil jadi bingung.”
“ Ooo. Yauda, kok lu ada di sini? Ngampus di sini juga?”
“ Yup… Lu sendiri ngapain? Bukannya lu udah lulus ya?”
“ Iya sih, tapi gue masih ke kampus soalnya lagi ada proyek ama dosen.”
“ Ooo, gitu toh.”
“ Wes… Pake bb ni. Bagi pinnya donk.”

Well, I can't say that I’m not wanna give him my pin. So I just give it. And once again that the start of our reconnecting friendship.

Aku berpikir banyak mengenai apa yang dikatakan Chika dan apa yang dikatakan oleh diriku sendiri. Kenapa aku dan Rezki harus terus bertemu? Padahal aku sudah lupa akan dia dan tidak ingin bertemu dengan dia lagi. Is it the one that we call destiny? Seriuosly? Why him?

Wait for the next part.... :)
By : Michelle Rorong

Selasa, 23 April 2013

Pemberi Harapan Palsu

Chapter 2 : Second  chance

Hari-hariku sempurna. Yes, high school is the best experience in my life. I never feel this exiciting before. 

“ Gina, besok jadi ikut nonton Jiffest nggak?” Tanya Heru.
“ Hm… Gimana ya? Senen kan kita udah ujian mid semester.”
“ Halah… Kan kita nontonnya jumat. Lu masih punya kesempatan belajar hari sabtu ama minggu. Kayak besok lu langsung belajar aja.” Balas Heru
“ Bener juga sih lu… hahaha… Jenius. Kalau gitu gue pasti ikutlah.”

I love movie very much and finaly having friends who like watch movie like crazy like I am it’s so much fun. We can talk about it and we can go to see a film festival.
 

Hai gin, apa kabar ni? Udah lama ga denger kabar dari lu.

“ Gin, lu mau popcorn apa? Malah bengong lagi.” Tanya Chika.
“ Hah? Caramel aja, Chik.”   
“ Kenapa lu? Sampe bengong gitu emang siapa yang sms lu?” Tanya Heru.
“ Nobody… Just an old friend.
Yukk, masuk aja udh mau mulai kan?” Balasku

Yup an old friend. It’s Rezki. I don’t why he text me again. But I guess seem I am in a good mood so let’s reply the text like nothing happen. Cause maybe he never mean to hurt me.


Baik ni Rez. Lu sendiri gimana kabarnya?
Baik donk gin. Hehe… lu gimana udah ada pacar?
Haha… Lu sendiri gimana sama Donna?
Gue ama donna udah putus lagi. Udah lama kok
Ooo… sory ya…trus gimana kuliah lu?
Dan itu awal dari segalanya. Kami mulai berteman lagi. Tapi kali ini kami memang hanya sebatas teman. Karena kami hanya sms-an dan tidak lebih dari itu. Sampai saat itu.
Gin, mau nemenin gue beli barang ga?


“ Kenapa lu? Tampangnya bingung banget.” Tanya Chika.
“ Well, lu baca ni.” Aku pun memberikan hp ku kepada chika.
“ Ooo. Rezki ngajakin lu jalan. Yauda jalan aja sono ama dia. Siapa tau dia ada rasa ama lu. Lagian jalan ama dia nggak ada salahnya juga kan? Gue tau kok lu juga demen kan ama dia?”
“ Demen? Biasa aja kok.” Jawabku dengan tenang.
“ Ahh… Pura-pura aja ni.” Ledek Chika.
Aku pun tersipu malu.

Oke.. boleh deh. Mw beli barang dimana?
Besok gue jemput deh di rumah lu ya.
Oke deh…


Aku harus pakai baju apa ya? Jangan yang terlihat terlalu bersemangat tapi harus terlihat menarik. Aku mengotak-atik semua baju yang ada di lemariku. Jangan salah paham, bukannya aku ingin terlihat cantik di depan dia, hanya saja aku sangat percaya first impression it’s everything. Apa yang kita pakai akan memperlihatkan seberapa penting pertemuan yang akan kita datangi. So, I think this is important but not to important. You know what I mean, we girls have to sell it little bit more.

“ Gin, Kita ke toko buku dulu yuk. Gue mau beli buku ni.”
“ Oke..”
“ Bagusan yang mana ya?”
“ Yang itu juga bagus kok.”

He look nice.
Pakaiannya rapi. Celana panjang dan kaos berkerah. Nice first impression. I think I’m not gonna regret this moment.

“ Gue udah nih. Lu mau beli sesuatu ga?”
“ Nggak ni, Rez.”
“ Oke deh.”
Dia pun pergi ke kasir dan membayar buku yang dia beli.
“ Mau kemana ni, Gin?”
“ Terserah enaknya kemana?”
“ Yawda kita makan eskrim aja ya.”
“ Oke deh….”

Setelah kami selesai membeli eskrim, kami pun mencari tempat duduk. Finaly I can sit and talk with him. I’m so excited. First thing to do is make a conversation and if it go well, this is gonna be my favorite moment.

Pa, jemput aku ya sekarang… Aku udah selesai ni ketemu ama temennya.
Aku terus melihat hpku, menunggu balasan dari papaku.
Oke papa jalan sekarang ya….

Thanks God… I never feel this happier feeling because I see my dad text. I can wait anymore minute to get out of this date. If this is even a date. This is the worst date ever. And he always make me feel dumb. Like right now.

Tidak sekali pun terjadi pembicaraan yang menyenangkan. Aku seperti berbicara dengan patung atau orang dengan label di kepalanya yang bertuliskan I’m still in broken heart mood, so not really wanna a company. Kalau begitu kenapa dia ngajak aku jalan? He broke my heart again. And this enough for me. No more second chance, cause maybe some people never change.

Trett..Trett…
Finaly my phone is ringing and it’s my dad. He’s savior!

“ Halo, Pa…Udah sampe ya? Oke… Gina ke sana sekarang.”
“ Papa lu jemput? Gue pikir tadi lu bakal gue anter pulang.”
“ Iya ni, soalnya sekalian jalan jadinya di jemput aja.”
“ Oke deh… Gue anterin lu ke lobi ya.”
“ Nggak usahlah… Gue bisa sendiri kok. Gue kan bukan anak kecil.” Dengan senyum mengejek.
“ Ya, nggak apa-apalah. Yukk.. tar bokap lu nunggu kelamaan.”

Akhirnya aku pun terpaksa setuju. Aku tidak pernah bisa membaca pikirannya. Sebenarnya apa yang dia coba lakukan? Try to be a gentlemen? Seriously? I don’t need that act right now. What i need is having a space where you’re not in it. Cause I’m sick of you. And I’m done with you. But still have to put a smile and say thank you because you walk me to my car.

“ Hayo, siapa tadi? Pacar kamu ya?” Tanya papa.
“ Bukan kok. Cuman temen biasa.” Balasku
“ Masa? Kok kamu nggak cerita kalau lagi deket ama cowok?”
“ Serius, Pa. Dia cuma temen biasa.”

He be my boyfriend? I dream before and still until today. After this day I make promise to my self that I never ever gonna see him more than friend. If he still wanna be friend with me, let’s be friend. But he never gonna leave a friend zone.


Wait for the next chapter.... :)
By : Michelle Rorong

Pemberi Harapan Palsu

Chapter 1 : Introduction

Tak disangka tidak semua orang bisa menerima kenyataan. Atau memang hanya diriku saja yang bisa mencoba melupakan semua kesalahanya dan memulainya dari awal? Well, memang tidak sepenuhnya aku melupakannya, at least I’m trying to be friendly.

Aku tahu dia pasti sangat kesal dan marah padaku sampai-sampai kami tidak bisa lagi jadi teman. Tapi seharusnya bukan dia yang berhak marah padaku. Harusnya aku yang marah. Karena apa yang terjadi tidak lepas dari kesalahan yang pernah dia buat. Or maybe he never realize what he did is hurt me enough.

Tret…trett…
Bbku pun berbunyi. Membuyarkan lamunanku. Tapi tidak bisa menghapus kekesalanku.
Iya jalan-jalan aja.

Itu balasan dari dia. Aku tahu kalau orang membalas dengan singkat, padat dan tanpa ada pertanyaan balik, dia pasti tidak ingin mendengar kabar apapun dariku.

 Oke I got it… You probably hate me. You probably thinking that I play you. Honestly I never mean  to hurt you like that. I’m just trying to be nice and maybe we could be something more than friend. But even the time is right, I already forgive you but I realize  never trust you anymore. I guess all is my fault. I tried to find something in you that maybe can make me trust you again. But I don’t see it.
                                                                  ***
Hai Gina, masih inget gue nggak? Suaru lu bagus juga tau.
Hm… Makasih. Tapi ini siapa ya?
Ini Rezki… Kita kan baru pulang dari live in bareng. Masa udah lupa?
Oya, Rezki… gimana kabar lu?
Baik ni… Lu masih anak sma ya? Sma dimana?
Haha… kok gitu sih ngomongnya. Kesannya gue anak kecil banget.
Emang iya. Lu sekamar ama Helen kn? Kn pada ribut gitu katanya ada anak kecil yang perlu dijaga.
Ha?emang Helen ngomong apa? Perasaan gw ga ngerepotin dia deh.

Iya..tp katanya waktu daftar ortu lu suruh lu dijagainkan?
Haha… ya ortu gue sih emg suka becanda kadang-kadang. Masa gitu aja dianggap serius?
Iya deh… jangan ngambek lah gue Cuma becanda kok
Nggak lah gue kn bukan anak kecil yg gampang ngambek.


Namanya Rezki. Orangnya sangat menyenangkan untuk diajak sms-an. Tampangnya lumanyan. For high school girl could be with college boy it’s kind of awesome.

Namaku Gina, anak kelas satu sma. Pengalaman pacaran belum ada. Pengalaman didekatin cowok juga belum ada. So basicly I still innocent. Tapi memang tujuanku adalah untuk cari pacar. I’m in high school and having a boyfriend it’s become my priority. Dan dengan adanya Rezki, it will be perfect. Aku bisa coba pacaran dengan orang yang lebih tua. Hihihi….

Bukannya aku kegenitan tapi aku hampir yakin 70 persen kalau Rezki memang ada rasa sama aku. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari kami sms-an. Dan hampir setiap minggu setidaknya dia pasti meneleponku sekali. Walau aku tidak punya pengalaman, but I’m not dumb enough to not understand it. Mungkin aku hanya tinggal menunggu waktu untuk dia mengatakannya.

But the time that I wait is never come. Why? He still text me and call me. But nothing more is happen. So I tried to forget him. Cause I want to have a relationship experience but not a heart broken experience. I tried to think what he do because maybe older guys do that to their friend.

Gin, besok datang nggak lu ke acara reuni anak-anak live in?
Dateng donk Rez, gue kan juga kangen sama Helen dan Jessica.
Oke deh, besok gue tunggu lu ya di sana.
Oke …

“ Eh, tau nggak Gin, kalau Rezki ama Donna udah jadian loh.” Kata Helen
“ Ha? Serius? Kapan?” Balasku dengan kaget
“ Pastinya kapan gue juga nggak tau. Mereka nggak kasih tau kita juga. Udah lu mah nggak usah kaget gitu kali. Rezki kan memang udah deketin Donna dari dulu. Akhirnya jadi juga tuh.” Balas Helen

Aku pun hanya bisa tersenyum. Aku memang sempat mendengar rumor mengenai mereka. Tapi aku tidak sampai pikir itu benar terjadi. Kalau gitu selama ini aku hanya dibodohi. Why he do what he do to make me feel special? I hate to admitted but I think I’ve been played. It’s a negative thinking. The positive one is maybe older guys do that to their friend. Since I don’t have any experience about this thing, I guess better thing to do is forget him and move on.

wait for next chapter... :)
By : Michelle Rorong

About me? I'll say i'm still figure it out. Cause i have a lot of time to do that.

Label