Selasa, 23 April 2013

Pemberi Harapan Palsu

Chapter 2 : Second  chance

Hari-hariku sempurna. Yes, high school is the best experience in my life. I never feel this exiciting before. 

“ Gina, besok jadi ikut nonton Jiffest nggak?” Tanya Heru.
“ Hm… Gimana ya? Senen kan kita udah ujian mid semester.”
“ Halah… Kan kita nontonnya jumat. Lu masih punya kesempatan belajar hari sabtu ama minggu. Kayak besok lu langsung belajar aja.” Balas Heru
“ Bener juga sih lu… hahaha… Jenius. Kalau gitu gue pasti ikutlah.”

I love movie very much and finaly having friends who like watch movie like crazy like I am it’s so much fun. We can talk about it and we can go to see a film festival.
 

Hai gin, apa kabar ni? Udah lama ga denger kabar dari lu.

“ Gin, lu mau popcorn apa? Malah bengong lagi.” Tanya Chika.
“ Hah? Caramel aja, Chik.”   
“ Kenapa lu? Sampe bengong gitu emang siapa yang sms lu?” Tanya Heru.
“ Nobody… Just an old friend.
Yukk, masuk aja udh mau mulai kan?” Balasku

Yup an old friend. It’s Rezki. I don’t why he text me again. But I guess seem I am in a good mood so let’s reply the text like nothing happen. Cause maybe he never mean to hurt me.


Baik ni Rez. Lu sendiri gimana kabarnya?
Baik donk gin. Hehe… lu gimana udah ada pacar?
Haha… Lu sendiri gimana sama Donna?
Gue ama donna udah putus lagi. Udah lama kok
Ooo… sory ya…trus gimana kuliah lu?
Dan itu awal dari segalanya. Kami mulai berteman lagi. Tapi kali ini kami memang hanya sebatas teman. Karena kami hanya sms-an dan tidak lebih dari itu. Sampai saat itu.
Gin, mau nemenin gue beli barang ga?


“ Kenapa lu? Tampangnya bingung banget.” Tanya Chika.
“ Well, lu baca ni.” Aku pun memberikan hp ku kepada chika.
“ Ooo. Rezki ngajakin lu jalan. Yauda jalan aja sono ama dia. Siapa tau dia ada rasa ama lu. Lagian jalan ama dia nggak ada salahnya juga kan? Gue tau kok lu juga demen kan ama dia?”
“ Demen? Biasa aja kok.” Jawabku dengan tenang.
“ Ahh… Pura-pura aja ni.” Ledek Chika.
Aku pun tersipu malu.

Oke.. boleh deh. Mw beli barang dimana?
Besok gue jemput deh di rumah lu ya.
Oke deh…


Aku harus pakai baju apa ya? Jangan yang terlihat terlalu bersemangat tapi harus terlihat menarik. Aku mengotak-atik semua baju yang ada di lemariku. Jangan salah paham, bukannya aku ingin terlihat cantik di depan dia, hanya saja aku sangat percaya first impression it’s everything. Apa yang kita pakai akan memperlihatkan seberapa penting pertemuan yang akan kita datangi. So, I think this is important but not to important. You know what I mean, we girls have to sell it little bit more.

“ Gin, Kita ke toko buku dulu yuk. Gue mau beli buku ni.”
“ Oke..”
“ Bagusan yang mana ya?”
“ Yang itu juga bagus kok.”

He look nice.
Pakaiannya rapi. Celana panjang dan kaos berkerah. Nice first impression. I think I’m not gonna regret this moment.

“ Gue udah nih. Lu mau beli sesuatu ga?”
“ Nggak ni, Rez.”
“ Oke deh.”
Dia pun pergi ke kasir dan membayar buku yang dia beli.
“ Mau kemana ni, Gin?”
“ Terserah enaknya kemana?”
“ Yawda kita makan eskrim aja ya.”
“ Oke deh….”

Setelah kami selesai membeli eskrim, kami pun mencari tempat duduk. Finaly I can sit and talk with him. I’m so excited. First thing to do is make a conversation and if it go well, this is gonna be my favorite moment.

Pa, jemput aku ya sekarang… Aku udah selesai ni ketemu ama temennya.
Aku terus melihat hpku, menunggu balasan dari papaku.
Oke papa jalan sekarang ya….

Thanks God… I never feel this happier feeling because I see my dad text. I can wait anymore minute to get out of this date. If this is even a date. This is the worst date ever. And he always make me feel dumb. Like right now.

Tidak sekali pun terjadi pembicaraan yang menyenangkan. Aku seperti berbicara dengan patung atau orang dengan label di kepalanya yang bertuliskan I’m still in broken heart mood, so not really wanna a company. Kalau begitu kenapa dia ngajak aku jalan? He broke my heart again. And this enough for me. No more second chance, cause maybe some people never change.

Trett..Trett…
Finaly my phone is ringing and it’s my dad. He’s savior!

“ Halo, Pa…Udah sampe ya? Oke… Gina ke sana sekarang.”
“ Papa lu jemput? Gue pikir tadi lu bakal gue anter pulang.”
“ Iya ni, soalnya sekalian jalan jadinya di jemput aja.”
“ Oke deh… Gue anterin lu ke lobi ya.”
“ Nggak usahlah… Gue bisa sendiri kok. Gue kan bukan anak kecil.” Dengan senyum mengejek.
“ Ya, nggak apa-apalah. Yukk.. tar bokap lu nunggu kelamaan.”

Akhirnya aku pun terpaksa setuju. Aku tidak pernah bisa membaca pikirannya. Sebenarnya apa yang dia coba lakukan? Try to be a gentlemen? Seriously? I don’t need that act right now. What i need is having a space where you’re not in it. Cause I’m sick of you. And I’m done with you. But still have to put a smile and say thank you because you walk me to my car.

“ Hayo, siapa tadi? Pacar kamu ya?” Tanya papa.
“ Bukan kok. Cuman temen biasa.” Balasku
“ Masa? Kok kamu nggak cerita kalau lagi deket ama cowok?”
“ Serius, Pa. Dia cuma temen biasa.”

He be my boyfriend? I dream before and still until today. After this day I make promise to my self that I never ever gonna see him more than friend. If he still wanna be friend with me, let’s be friend. But he never gonna leave a friend zone.


Wait for the next chapter.... :)
By : Michelle Rorong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About me? I'll say i'm still figure it out. Cause i have a lot of time to do that.